Puisi Faisal Zulkarnaen

lelaki
memandang ujung kaki
di bangku taman berteman sunyi

angin tertawa mengejek dan menari
kau pikir aku akan menolongmu
menerbangkan mimpi-mimpimu
dan menyemainya di putik-putik bunga?

lelaki 
memandang ujung kaki
di bangku taman berteman sunyi

bulbul kecil membisikkan melodi satir
jadi kau ingin aku terbang ke negeri Saba
dan mengambilkan sebutir permata...
untukmu?

mendengar itu
sang lelaki berhenti mencintai bunga-bunga


|Kairo, musim semi 2011|

Lelaki Bunga

by on November 13, 2011
Puisi Faisal Zulkarnaen lelaki memandang ujung kaki di bangku taman berteman sunyi angin tertawa mengejek dan menari kau pikir aku akan m...
Cerpen Indra San Meazza


Nafasnya masih terus memburu. Penasaran. Seringai sinis di wajahnya tak henti-hentinya ia sunggingkan pada seseorang di hadapannya. Kecewa, terpukul, terhina, bertumpuk-tumpuk menjadi satu.

"Masih jelas ingatanmu tentang keluhmu dulu?! Mengapa ketika bahagia itu sudah terwujudkan, bukan kedamaian dan kepuasan yang hinggap. Ternyata hanya rasa hambar dan tak berselera yang menjalar. Apa karena tantangan itu sudah reda dan klimaks penderitaan selama ini tak dapat ditebus dengan kebahagiaan sekejap," matanya mencorong menuntut.

"Huh, ketika itu aku kewalahan meredakan gerutumu. Bukankah bahagia itu yang kau igaukan, kau dambakan. Yang terus menghantui tidur dan lamunanmu. Yang kerap menghiasi pergolakan jiwamu. Yang membuat dendammu selalu membara.

Derita Bahagia…*

by on November 13, 2011
Cerpen Indra San Meazza Nafasnya masih terus memburu. Penasaran. Seringai sinis di wajahnya tak henti-hentinya ia sunggingkan pada se...
Puisi Afiat Fahma Zamani 


You’re a shiny pearl
But looks too dark
You’re a sweet honey
But tasted too bitter
You’re a beauty rose
But felt too wilt

To Look U’r Shiny
To Taste U’r Sweet
And To Feel U’r beauty
Are very Hard for Me

Step to Paradise

by on November 13, 2011
Puisi Afiat Fahma Zamani  You’re a shiny pearl But looks too dark You’re a sweet honey But tasted too bitter You’re a beauty rose B...
Puisi Afiat Fahma Zamani 


Aku ini bagaimna dan aku harus bagaimana?
Bukankah kulitku masih biru,
Mengapa slalu disuruh ini itu?
Disaat pikirku belum terisi,
kenapa tak ada yang memahami?

Aku ini bagaimna??

Aku makan kamu makan,
tapi aku yang disalahkan!
Aku Lari dia lari
Aku yang dimarahi!
Aku belajar mereka belajar,
Lagi-lagi aku yang digencar!
Aku manusia, Kamu, dia juga mereka pun manusia.
Mengapa tidak sama?!!

Aku Ini Bagaimana

by on November 13, 2011
Puisi Afiat Fahma Zamani  Aku ini bagaimna dan aku harus bagaimana? Bukankah kulitku masih biru, Mengapa slalu disuruh ini itu? Disaa...
Puisi  Afiat Fahma Zamani


Coba kau terka,

apa maksud ‘Lawan’ menjajah kita?
Harta? Iya!
Kuasa? Benar!
Agama? Seratus!

Namun, tahukah kau,
Apa maksud Tuhan dibalik penjajahan?
Tentu tidak untuk sebatas merajalelakan keonaran,
Juga bukan sekedar menyebarluaskan kerusakan
Atau bahkan memporakporandakan ajaran!

Dulu,
Adanya lawan, muncul pahlawan
Maraknya kerusuhan, timbul pergerakan
Terjadinya penjajahan, lahir kemerdekaan
Demikian lah Tuhan mengatur perjalanan alam

Sekarang
Tak ada lawan, tiada juga pahlawan
Heningnya keadaan, memudahkan penggelapan
Punya pemerintah, tapi rakyat tetap saja susah

Lalu,
Apakah kita akan pasrah dengan aturan Tuhan?

Cairo, 10 November 2010
persembahan untuk Ibu pertiwiku Indonesia

 ·  · Bagikan

(Pah)Lawan

by on November 13, 2011
Puisi  Afiat Fahma Zamani Coba kau terka, apa maksud ‘Lawan’ menjajah kita? Harta? Iya! Kuasa? Benar! Agama? Seratus! Na...








Oleh: Irja Nasrulloh

Wahai manusia-manusia yang tertidur dalam buaian sejarah…Sejarah kita memang Indah…Sejarah kejayaan Islam memang memesona. Tapi coba bangunlah sebentar…kembalikan kejayaan itu! Yakinlah, kita bisa!
Sejarah Islam di Bagdad, Damaskus, Andalusia, dan lainnya, telah membuai jiwa-jiwa yang selalu membangga-banggakan nenek moyangnya. Kita selalu berteriak-teriak kepada dunia akan kejayaan Islam masa lalu, akan tetapi apakah artinya semua itu, tanpa disertai keinginan dahsyat untuk mengembalikan imperium Islam itu. Teriakan itu tak lebih dari sebuah kekosongan! Hampa! Fatamorgana!
Delapan ratus tahun umat Islam  berjaya di Spanyol. Salah satu kota di Spanyol yang telah disaksikan dengan bangga oleh sejarah adalah Cordoba. Dahulu, Cordoba pernah dikuasai Bizantium di bawah komando raja Goth Barat. Tahun 711 M atau 93 H, ketika Islam masuk ke daerah itu, Cordoba memulai babak barunya. Cordoba menjadi pusat peradaban Islam yang bersinar di atas planet bumi.

Oleh Irja Nasrulloh
 
Jika membahas kematian, maka sebenarnya kita sedang membahas masa depan kita. Ya, itulah masa depan. Masa depan daripada semua makhluk yang bernyawa.
Seseorang yang tak ingin menjemput kematian, berarti ia telah mengingkari sebuah realita. Mati menjadi sebuah realita yang terus terjadi setiap detiknya, dalam sekat bola dunia. Terlalu banyak nyawa yang melayang seiring detakan jarum jam, dari ujung timur sampai ujung barat dunia ini. Kematian pasti akan menemui kita!
Seseorang yang mengingat mati(karena ia percaya akan datangnya kematian itu, sewaktu-waktu), maka akan selalu berusaha untuk memperbaiki segala tindakannya. Ia tahu, bahwa nyawa akan melayang kapan saja, serta dalam kondisi apa saja. Tentu, hal ini terjadi pada orang-orang yang meyakini eksistensi akhirat. Adapun, bagi orang-orang yang mengingkarinya, maka hal ini mustahil terjadi.
Inilah “Spirit Kematian” yang akan menjadi motor segala tindakan manusia untuk lebih baik. Mungkin benar, bahwa dunia ini panggung sandiwara. Dunia ini juga sekadar taman-taman bermain. Hakikat dunia ini tak ubahnya medan imtihan. Perbuatan manusia, merupakan aksi yang pasti akan dipertanggungjawabkan di hadapan The Judge, Allah Swt. Jadi, kebaikan atau kesalahan yang sebesar atom pun pasti ada balasannya.
Kata orang, “mengingat mati justru akan mengendorkan semangat hidup.” Berbeda denganku, menurutku justru mengingat mati akan menjadi penyemangat hidup. Bagaimana bisa jadi penyemangat? Seperti disinggung di statement sebelumnya, bahwa dengan mengingat kematian yang sewaktu-waktu tiba, kita akan meningkatkan kualitas hidup kita. Sebelum ajal sempat datang, kita akan “menabung” segala perbuatan baik kita, sebanyak-banyaknya. Sebelum nyawa melayang, kita akan  berusaha memberi manfaat (baca:kontribusi) untuk umat manusia di dunia ini, sebesar-besarnya. Dengan hal seperti inilah, maka akan tercipta sebuah kemajuan yang teramat pesat. Segala tindakan dan sisi-sisi kehidupan manusia akan terus di-support oleh spirit kematian ini. Sudahkah Anda memiliki spirit kematian ini? Atau justru Anda bertolak dari spirit ini?


 


Spirit Kematian

by on November 08, 2011
Oleh Irja Nasrulloh   Jika membahas kematian, maka sebenarnya kita sedang membahas masa depan kita. Ya, itulah masa depan. Masa d...