Oleh Irja Nasrulloh

Berikut ini beberapa tahap-tahap yang dilalui dalam menulis,

1. Pencelupan
2. Pengumpulan data yang detail.
3. Tulislah apa yang diketahui dari data-data tersebut.
4. Daftar isi dan alur cerita. Termasuk di dalamnya karakter tokoh, juga latar.
5. Menuliskan bab demi bab.
6. Jangan berhenti sebelum selesai.
    Ingat! Jangan mengoreksi di tengah-tengah(saat menulis).
7.Membuat judul.
*Kriteria judul yang baik:
a)     Judul yang unik. Contoh: Dialog Dengan Jin Muslim.
b)     Sensasional, bombastis.
c)      Kontroversial. Contoh: Ternyata Manusia Tidak Mati.
d)     Rahasia. Contoh: Rahasia Awet Muda.
e)      Menjawab persoalan. Contoh: Agar Sukses di Usia Muda.
*Juga memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Terdiri dari dua sampai tiga kata, maksimal empat.
    Contoh judul dengan tiga kata:  Ayat-ayat Cinta.
2. Mudah diingat.
3. Mencerminkan isi.
4. Berwibawa.
5. Marketable ( Menarik perhatian orang untuk membeli).

8. Revisi/tinjauan ulang.


Tahap-Tahap Menulis

by on November 08, 2011
Oleh Irja Nasrulloh Berikut ini beberapa tahap-tahap yang dilalui dalam menulis, 1. Pencelupan 2. Pengumpulan data yang detai...


Oleh Irja Nasrulloh


Menulis merupakan hal yang membutuhkan ketelatenan. Menulis  merupakan perpaduan antara logika dan hati. Kedua-duanya merupakan oplosan yang bisa dilatih. Seorang penulis, minimal memiliki pondasi dasar dalam dirinya untuk menjadi seorang penulis. Berikut ini, modal untuk menjadi penulis,

1.     Niat yang kuat.
Niat merupakan esensi daripada sebuah perbuatan. Niat yang kuat merupakan kekuatan yang bisa menembus batas penghalang apapun, sehingga tercapailah tujuan manusia. Tentunya hal tersebut tetap dalam kodrat-Nya. Kewajiban hamba yaitu berusaha.
Jangan pernah berkata bahwa kita tidak punya bakat menulis. Ketauhilah, bahwasanya sekarang ada pengertian baru tentang bakat itu sendiri, yaitu kemauan keras dan keinginan kuat yang selalu dijaga.
2.     Keberanian untuk menulis.
Jangan pernah takut untuk menulis! Menulis tidak terbatas pada tempat dan waktu; alam artian menulislah selama ada kesempatan dan kemampuan untuk menulis. Umur, juga bukan alasan untuk tidak menulis. Perlu kita ketahui, bahwa Ahdiat K. Miharja, menulis pada usia 94 tahun. Banyak penulis-penulis yang memulai menulis di usia yang sudah senja. Sebaliknya, banyak pula penulis-penulis cilik yang bukunya sudah berderet di toko-toko buku bertaraf nasional. Jadi, jangan pernah takut untuk mencoba menulis. Tunjukkan nyalimu!
            3.   Idealisme Yang Selalu di Perjuangkan.
Dengan idealisme atau kekuatan jiwa seorang penulis, maka sebuah tulisan terlihat lebih berisi. Dengan idealisme pula, seorang penulis memiliki bobot, energi lebih, ide yang cemerlang, dan daya kreatifitas yang luar biasa. Di samping itu, inilah hal yang akan menjadi ciri khas dari setiap penulis. Tulisan akan memancarkan idealisme masing-masing penulis.
4.     Ilmu dan Wawasan.
Ilmu dan wawasan yang luas merupakan hal yang tidak boleh lepas dari seorang penulis. Membaca merupakan salah satu cara mujarab untuk menambah wawasan. Ibarat seorang pedagang, membaca merupakan kulak atau membeli barang-barang yang akan dijual. Adapun menulis merupakan ibarat daripada menjual barang dagangan kita.
5.     Ikhlas
Mulailah menulis rasa ikhlas. Dengan rasa ikhlas, maka semua pekerjaan termasuk menulis akan sangat menyenangkan. Dengan hal tersebut, berbagai rintangan yang datang saat menulis, tak akan mudah menggoyahkan proses menulis. Memang boleh mempunyai tujuan-tujuan tertentu ketika akan menulis, seperti ingin mencari rizki lewat tulisan. Hal tersebut tetap tidak menafikan seseorang untuk bisa merasa ikhlas. Hanya saja, mungkin tujuan seperti itu, bukan tujuan primer ketika seseorang menulis.
  

Modal Menjadi Penulis

by on November 08, 2011
Oleh Irja Nasrulloh Menulis merupakan hal yang membutuhkan ketelatenan. Menulis  merupakan perpaduan antara logika dan hati. K...




















Oleh Irja Nasrulloh

Hidup di dunia adalah hidup  yang terikat oleh ruang dan waktu (space & time). Tentunya ruang dan waktu tersebut telah diciptakan oleh Sang Pencipta yang dia sendiri  tidak terikat oleh ruang dan waktu. Dia adalah Allah satu-satunya yang absolut. Di dalam Al-qur'an surat Al-ikhlas 1-4 disebutkan,

 "Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia." (Al-ikhlash:1-4)

Betapa Dia benar-benar absolut, tak ada yang setara dengan-Nya. Dia di atas segala-galanya, kekuasaan-Nya meliputi segala sesuatu, dan pengetahuan-Nya tanpa batas.

Hubungannya dengan masalah ruang dan waktu, tadi telah disebutkan bahwa Dia menciptakan ruang dan waktu, akan tetapi Dia lepas dari dimensi ruang dan waktu itu sendiri. Hal inilah yang akhirnya akan mengantarkan kita kepada pemahaman bahwa Dia Maha tahu. Mengapa? karena menguasai dimensi ruang dan waktu. Bukankah hal ini sangat masuk akal. Contoh: Seorang presiden dia mengetahui dan mampu mendata berbagai hal yang ada di dalam negaranya, karena dia sendiri  menguasai negara tersebut.

Kaitannya dengan masalah waktu pula, Allah swt bersumpah dalam Al-qur'an  surat Al-'ashr, yaitu "Demi masa(waktu)" ( wal'ashri). Ini menunjukkan betapa penting dan tingginya kedudukan waktu.

"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran."(Al-'ashr1-3).

Kita sebagai manusia kadang sangat tidak menghargai waktu. Menghargai waktu bukan berarti bekerja terus menerus tanpa istirahat. Orang yang bekerja terus terus tanpa menyisihkan waktu sedikit pun untuk istirahat, justru bukan sosok yang menghargai waktu. Bolehlah, jika memang keadaan mendesak. Yang harus kita  ingat adalah  bahwa setiap jasad dan ruh mempunyai hak. Jasad, seperti kaki, tangan, mata, kesemuanya itu mempunyai hak untuk istirahat dll. Adapun maksud ruh di sini bisa diartikan sebagai sisi kerohanian kita. Sisi kerohanian kita tersebut membunyai hak,  seperti jiwa yang membutuhkan ketenangan, membutuhkan ketentraman, membutuhkan kedamaian dll.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa orang yang menghargai waktu adalah orang yang menempatkan dan mengatur waktu sesuai dengan kebutuhan. Ingat bahwa keinginan berbeda dengan kebutuhan dalam masalah ini. Keduanya dibedakan oleh hawa nafsu. Keinginan identik dengan hawa nafsu dan akan bersambung kepada keinginan selanjutnya, yang kadang sulit dikendalikan karena bersifat pemuasan. Adapun kebutuhan lebih terarah dan terkendali.

Satu detik adalah waktu di mana manusia dalam proses berpikir dan bertindak. Satu detik adalah di mana manusia  bisa celaka atau beruntung. Satu detik adalah di mana manusia mendapatkan air tuba atau air susu. Satu detik adalah neraka atau surga, dan lain sebagainya. Bagaimana kita memahami hal  ini?
 Saya akan menberikan sedikit gambaran. contoh pada diri Anda sendiri, suatu ketika, dalam hitungan detik, terbesit di dalam benak bahwa Anda ingin menunda shalat karena masih menikmati chatting yang sedang anda lakukan. Chatting memang asyik dan tidak membosankan. Jarum jam terus berputar, dan waktu validalitas shalat tinggal tiga puluh minat. Anda tetap menunda shalat dan berpikir " Ah, shalat paling hanya butuh waktu lima menit." Kini Anda sudah bangkit dari depan monitor dan berwudhu di kamar mandi.
Apapun bisa terjadi sekehendak Allah; di sela-sela wudhu, penyakit epilepsi yang anda punyai tiba-tiba kambuh. Anda roboh dan kepala anda masuk ke dalam bak penampungan air. Tidak ada rekan-rekan Anda yang tahu, karena Anda terbiasa mengunci kamar mandi. Saat itulah Izrail menjemput Anda. Anda pun mengucapakan selamat tinggal pada dunia fana dan menuju dunia keabadian.
Apa yang bisa kita petik dari contoh tersebut? Sebagian Anda, para pembaca mungkin akan membuat kesimpulan: mati dalam keadaan syahid karena sedang wudhu. Sedangkan sebagian yang lain berpendapat: celaka di akhirat karena menunda-nunda shalat, sebagai amal yang akan dihisab pertama kalinya. Saya lebih menyetujui pendapat yang kedua, walaupun segala keputusan kembali kepada Allah swt. Kita menghukumi secara dhohir saja. Sekali lagi Allah swt lebih tahu dan lebih adil terhadap keputusan-keputusan-Nya.
Contoh kedua: Dalam hitungan detik, Anda menjatuhkan beberapa rupiah ke tangan pengemis. Anda tak tahu menahu, siapa pengemis tersebut. Anda benar-benar berniat ingin membantu. Ternyata, pengemis tersebut adalah seorang yang terlunta-lunta dan terpaksa melakukan pekerjaan tesebut. Ia adalah orang yang taat beribadah. Ia mempunyai seorang anak yang sedang diambang kematian. Anak tersebut membutuhkan obat yang akan menjadi perantara kehidupannya. Akhirnya, pengemis malang itu, mampu membeli obat dengan uang pemberian Anda. Dengan izin Allah swt, anak pengemis tersebut sedikit dan berproses menuju kesembuhan. Kesimpulannya, bahwa Anda yang dermawan, akan memetik kenikmatan surga sebagai imbalan keikhlasan Anda.

Sebagai manusia yang tidak luput dari dosa, kita mudah diombang-ambingkan oleh godaan setan berbau neraka. Setinggi-tingginya keimanan seseorang  (baca: selain para nabi dan rasul yang maksum), suatu saat orang tersebut bisa jatuh ke dalam jurang kenistaan dan kebatilan. Makanya kita dianjurkan untuk selalu berdoa kepada Allah swt, supaya kita  bisa istiqomah di dalam iman dan Islam. Ingat! Kita bukan manusia-manusia maksum yang selalu dijaga dari segala dosa oleh Allah swt. Kita hanya orang awam yang dalam hitungan detik mencoba untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang diridhoi Allah swt dan menghindari keburukan-keburukan yang dibenci Allah swt. Banyak cara untuk mempraktikkan hal tersebut. Anda bisa lebih bijaksana dalam menentukan keputusan. Mulai sekarang juga, Anda harus menghargai arti detik. Anda harus bijaksana dalam bertindak. Sebentar-bentar dan sekecil-kecilnya suatu tindakan Anda, yang dilakukan dengan keikhlasan dan diniatkan untuk mendapat  keridhoan Allah, maka akan berujung surga. Sebaliknya, sebesar-besarnya tindakan Anda yang tidak disertai dengan keikhlasan dan tidak denagan  niat yang baik, maka akan berujung neraka.
Dunia ini tak lain adalah ladang usaha untuk mendapatkan ridho-Nya. Apa lagi yang ingin diharapakn jika seseorang tidak mau berusaha, akan tetapi hanya pasrah pada keadaan. Dalam usaha, ada pedoman yang penting yaitu berusaha sesuai kadar kemampuan. Kadang ada orang yang sebenarnya mampu melaksanakan sesuatu, akan tetapi lebih memilih untuk menikmati kemalasannya. Sebaliknya, ada juga seseorang yang sebenarnya tak mampu melaksanakan sesuatu, akan tetapi justru memaksakan diri. Ini sangat tidak proporsional. Islam memberikan aturan yang sangat jelas.  Allah swt berfirman di dalam Al-qur'an:

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya…." (Al-baqarah:286)

Kesempatan, kesehatan, dan kemampuan untuk beramal baik yang kita punyai saat ini adalah nikmat besar yang diberikan Allah swt. Gunakan kesempatan sebelum datang kesempitan. Apakah Anda tahu, bahwa Anda masih mempunyai kesempatan banyak untuk melaksanakan berbagai kebaikan setelah Anda selesai membaca tulisan ini? Tidak tahu, kan? Jangan menunda-nunda amal kebaikan! Mungkin ini adalah peringatan terakhir untuk Anda dan kita semua.

Oleh Ahwazy Anhar

Setelah jam kuliah usai, puluhan siswa Asia, terutama Indonesia dan Malaysia, mulai  memenuhi Terminal Darrasah. Tujuan mereka hanya satu, menanti dan menaiki bus nomor 80 yang angkanya diberi garis miring atau yang lebih dikenal dengan ‘Bus  80 Coret’. Bus tersebut merupakan andalan utama para mahasiswa yang tinggal di kawasan Hay ‘Asyir untuk kembali ke rumah masing-masing disamping beberapa bus lainnya.

Siang itu terik, matahari yang menyengat menemani penantian para mahasiswa yang ingin segera pulang. Butiran-butiran keringat berkucur deras membasahi pakaian mereka. Tapi mereka tidak mau menyerah karena menyerah pun  tidak ada gunanya. Satu-satunya yang bisa mereka kerjakan hanya menunggu, menunggu dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.

Dengan banyaknya pesaing yang akan menumpangi bus 80 Coret, siapa pun pasti ingin menjadi yang tercepat untuk mendapat tempat duduk. Jiwa kompetitif pun harus dikompori. Kalau tidak, hanya ada dua konsekuensi; menunggu bus selanjutnya  yang bisa mencapai satu jam atau berdiri di atas bus karena tidak mendapatkan tempat duduk  yang juga bisa mencapai satu jam untuk sampai ke rumah. Itu pun dalam kondisi panas dan gerah.

Satu bus 80 Coret melesat dengan sangat cepat memasuki terminal. Setiap mahasiswa mulai memasang kuda-kuda  dan memprediksi apakah bus akan berhenti di sisi kanan atau kiri dari terminal. Sementara itu, beberapa mahasiswa lainnya mengejar bus tersebut tapi bus itu tidak  berhenti. Para mahasiswa yang berlari tadi  memaksa  masuk  saat bus meluncur pelan untuk berhenti. Akibatnya, mereka terseret beberapa meter karena kaki mereka tidak sempurna memasuki bus. “Untung saja tidak terjadi hal yang fatal terhadap mahasiswa tersebut,” ungkap salah seorang mahasiswa yang menyaksikan kejadian itu.

“Saya sampai harus menindih teman saya untuk masuk bus. Saya jadi merasa bersalah apalagi setelah tahu ia tidak dapat tempat duduk,” ungkap salah seorang mahasiswa yang tidak ingin namanya disebutkan. Untung saja kebiasaan seperti ini hanya dialami mahasiswa laki-laki karena kampus perempuan terletak jauh dari kampus laki-laki dan angkutan umum yang lalu lalang di depan kampus perempuan jauh lebih banyak.

Tidak sampai lima detik, semua sisi bus sudah disesaki para mahasiswa. Ada yang duduk dan lebih banyak yang berdiri. Tidak ada satu senti pun dari bagian bus yang tersisa. Semua terisi penuh. Siapa pun tidak betah berlama-lama  berada di sini.

Perlahan, bus mulai meninggalkan terminal dan meluncur ke wilayah Duwaiqah dan terus menuju Hay ‘Asyir. Semua penumpang terombang ambing mengikuti laju bus. Suasana panas, bau  keringat, sirkulasi udara dalam bus yang tidak bagus, ditambah lagi dengan kemacetan akan menjadi sebuah penyiksaan sekaligus penempaan mental bagi para penumpang, terutama bagi penumpang yang tidak kebagian tempat duduk.

Kernet mulai menjalankan aksinya untuk meminta ugrah atau ongkos kepada penumpang. Badannya yang tambun dan besar berusaha melawati tumpukan para penumpang, mengitari seisi bus. Dengan cepat ia menerima kepingan uang logam satu Geneh dari setiap penumpang dan memberikan karcis kepada penumpang tersebut. Setelah bersusah payah meminta ongkos, ia kembali ke tempat duduk yang disediakan khusus untuk kernet sehingga ia tidak perlu capek-capek berdiri seperti penumpang lainnya.

Kejujuran penumpang

Bila dibutuhkan, bus akan berhenti di setiap mahaththah untuk menaikkan atau menurunkan penumpang. Jika ada penumpang baru yang masuk dan posisinya jauh dari kernet, dengan penuh kesadaran ia langsung  memberikan ongkosnya kepada orang terdekat. Ongkos tersebut berpindah dari tangan ke tangan hingga akhirnya sampai kepada kernet. Begitu pun dengan kernet, ia juga mengoper karcisnya melalui tangan yang sama hingga sampai kembali kepada orang yang membayar sebelumnya.

“Saya sangat takjub dengan kejujuran orang mesir terutama ketika pembayaran ongkos, mereka sangat jujur,” tutur Doni yang menyaksikan fenomena tersebut. Maka terlihatlah, agama Islam memang memberikan dampak yang sangat baik bahkan terhadap masalah yang kadang dianggap sepele sekali pun.

Bus tetap melaju dengan cepat karena kebetulan ruas jalan tidak macet. Doni tetap memandang kaku ke satu arah karena sempitnya tempat bergerak. Jika ia menoleh kekiri, maka wajahnya akan bertemu dengan ketiak orang mesir yang menggantungkan tangannya pada besi yang membentang di langit-langit bus. Jika menghadap ke kanan, wajahnya akan bertemu sangat dekat dengan wajah orang kulit hitam. Jadinya, ia hanya bisa menghadap ke satu arah, ke depan. “Beginilah perjuangan saya setiap hari pulang kuliah,” tutur Doni dengan sepotong senyum yang membentang di bibirnya.

Pandangan Doni menembus kaca bus bagian depan. Karena jalannya yang lurus, terlihat jelas semua ruas jalan disesaki oleh ratusan atau bahkan ribuan kendaraan hingga ke ujung kaki langit. Semuanya terjebak dalam kemacetan layaknya semut yang masuk sarang, harus antri. Tidak ada jalan yang bisa digunakan untuk menyelip. “Saat seperti ini memang dituntut kesabaran yang tinggi walau kadang tak rela,” kata Doni.

Mahasiswa Indonesia orang yang sangat baik

Saat bus masih berusaha menerobos kemacetan, tiba-tiba masuk seorang ibu dari pintu belakang. Dengan bersusah payah ia menyeret  badannya yang gemuk dan juga harus ikut berjuang bertindihan dengan semua penumpang. Seketika itu juga, seorang mahasiswa dari Indonesia berdiri dan mempersilakan ibu itu untuk duduk. Si ibu pun berterima kasih kepada mahasiswa tadi.

Ketika ditanyai mengapa mahasiswa tadi mau memberikan tempat duduk ia menjawab, “Ana teringat dengan ibu ana jika mengalami hal yang sama. Pasti ana nggak sanggup melihat beliau berdiri bertindihan. Jadi lebih baik ana yang berdiri.”

Fenomena seperti ini sangat sering terjadi. Barangkali inilah salah satu sebab kenapa orang Mesir sering menyebut mahasiswa Indonesia dengan Ahsanun nas, orang-orang yang sangat baik.

Berucap salam

Ketika masuk angkutan umum, orang Mesir selalu mengucapkan salam. “Aneh padahal mereka tidak saling kenal, tapi mereka tetap mengucapkan salam. Kalau di Indonesia pasti saya sedikit malu kalau masuk angkot dengan mengucapkan salam,” kata Andi sambil tertawa kecil.

Tidak hanya itu, di saat bus menerobus kemacetan, akan terlihat banyak orang Mesir bahkan mahasiswa Indonesia  yang membaca Al Quran di atas bus, memanfaatkan kekosongan waktu supaya tidak terbuang sia-sia. “Saya sering membaca AL Quran ketika berada di atas bus, tidak hanya untuk memanfaatkan waktu, hal ini juga saya lakukan untuk menahan pandangan. Kita kan tahu, wanita-wanita Mesir itu cantiknya luar biasa,” ungkap salah seorang mahasiswa seraya bibir terkembang.

Lebih dari itu, ada fenomena yang jauh lebih unik. “Waktu bulan Ramadan kemaren, ada saja orang-orang baik yang memberikan ifthar (buka puasa)  kepada siapa pun yang berada di atas angkutan umum. Saya sangat takjub karena belum pernah menemukan hal seperti ini di Indonesia,” ungkap Ahmad.

Hal serupa akan didapati di setiap sudut Mesir ketika waktu buka puasa datang, setiap hari. Jadinya, para penumpang tidak perlu khawatir terlambat buka puasa.

Seperti inilah fenomena-fenomena unik yang akan terbingkai abadi dalam kenangan bagi siapapun yang berkesempatan menghirup udara Mesir.


*)Tulisan anggota FLP Mesir ini pernah dimuat di Republika.co.id


Hanya di Mesir!

by on November 05, 2011
Oleh Ahwazy Anhar Setelah jam kuliah usai, puluhan siswa Asia, terutama Indonesia dan Malaysia, mulai  memenuhi Terminal Darrasah. Tuj...

Cerpen Irja Nasrulloh

Aku orang yang paling tak tega melihat pengemis. Beberapa hari ini, pikiranku gundah oleh pengemis yang selalu duduk di samping gerbang masjid Haramain. Wanita bercadar itu selalu datang menjelang magrib. Dia rutin menjalankan aktivitasnya sejak awal Ramadhan.
Hari ini aku bermaksud shalat di masjid Haramain. Aku masih melihat pengemis itu duduk di dekat gerbang. Aku rogoh sakuku, namun hampa yang kudapat. Aku menyesal lupa membawa uang. Ah, dasar manusia pelupa! Aku terus melangkah masuk ke dalam masjid untuk menunaikan shalat Maghrib berjamaah. Entahlah, sejak rakaat pertama sampai ketiga, aku tak bisa shalat dengan khusyu’. Pengemis itulah yang menggoda shalatku. Wajahnya berputar-putar di kepalaku. Selesai shalat aku cepat-cepat kembali ke asrama. Aku berusaha menepis wajah itu tapi tetap tak bisa. Pengemis itu begitu kuatnya mempengaruhi pikiranku. Siapa sebenarnya dia?
“Mukmin! Kok terbirit-birit kayak dikejar setan gitu, ada apa?” tanya temanku yang juga baru pulang dari masjid.
“Nggak papa,” jawabku sambil ngos-ngosan. Aku terus berlari menuju asrama tempat tinggalku yang sebenarnya letaknya tak jauh dari masjid.
Kini aku tiba di depan pintu flatku. Napasku keluar-masuk tak beraturan. Aku mencoba merogoh saku untuk mengambil kunci. “Duh,gusti…aku lupa bawa kunci,” bisikku. Akhirnya aku mengetuk pintu. Lama, tak ada yang membukanya. Bagaimana aku mengambil uang di dalam kamarku jika tak ada kunci?. Semua penghuni flatku juga pergi. “Ya Allah, Ya Rasul…!!!” aku mengerang. Aku takut pengemis itu pergi.
Aku segera pergi ke idaroh alias kantor asrama, menemui mudir atau direktur untuk minta bantuan. Alhamdulillah, mudir itu memegang kunci flat serta kamarku. Aku bernapas lega setelah mudir kami, ustaz Sofwat, membukakan pintu.
Aku segera masuk kamar. Tas yang tergantung di samping lemari kubuka dengan kasar. Aku temukan recehan di sana, sejumlah tiga pound tujuh puluh lima piaster. Kukecup uang itu. Tanpa basa-basi aku segera berlari menuju gerbang masjid Haramain. Hatiku gembira karena wanita bercadar itu masih di sana.
Terjadi kontak batin yang luar biasa saat aku memberikan uang kepadanya. Bahkan, aku sempat terpaku beberapa saat di depan pengemis itu. Kemudian kutangkap matanya berkaca-kaca. Kalau dilihat dari postur tubuhnya, wanita itu tak seperti wanita Mesir pada umumnya. Kudengar dari suaranya saat dia mengucapakan “Jazakallahu khoiro” padaku, bisa kutebak bahwa dia masih sangat muda. Satu hal yang membuatku heran, kok logat bicara arabnya juga tidak seperti orang Mesir. Jangan-jangan, dia bukan orang Mesir. Ah, aku tak peduli! Mungkin hanya perasaanku belaka.
Aku kembali melangkah menuju asrama. Tiba-tiba hatiku gerimis saat memandangi gedung asrama yang tinggi dan megah. Selama ini aku bisa makan enak, tidur nyenyak, belajar nyaman, mandi bebas, dan lain sebagainya di asrama. Bagaimana dengan wanita bercadar tadi? Apakah dia selalu bisa mengenyangkan perutnya? Apakah dia bisa tidur dengan nyenyak? Atau…“Gusti…semoga saja sangkaanku salah.”
Sampai di asrama, aku menggabungkan diri dengan jemaah yang sedang iftar. Aku dan juga mahasiswa asing lainnya, terlihat menyatu dengan orang-orang Mesir yang juga melaksanakan iftar di sana. Ramadhan menjadi salah satu momen untuk menyatukan umat.
* * *
Senja ini, bulan purnama menyembul indah dari batas akhir padang pasir. Cahayanya keemasan, menyemburat ke segala ufuk. Sungguh panorama senja yang sangat memukau. Tangkai daun korma yang berada di taman masjid Haramain melambai-lambai, mengucapkan selamat tinggal kepada siang. Malam pun menerobos bumi..
Sehabis shalat Magrib aku tak langsung melaksanakan iftar. Entahlah, akhir-akhir ini nafsu makanku berkurang.
Aku duduk di dekat jendela kamarku di lantai tiga. Aku memandangi pengemis bercadar itu. Dia masih tetap duduk di sana. Sekitar masjid sudah sepi, tak ada orang lain. Memang iftar untuk umum dilaksanakan di asrama.
Aku tak juga bosan memandanginya. Kini wanita bercadar itu bangkit menuju emperan masjid. Dia mengambil sesuatu dari plastik hitam kecil yang dibawanya. Seperti sebuah kain. Benar, tak lama kemudian dihamparkannya kain itu menghadap kiblat. Ternyata wanita itu melaksanakan shalat. Pengemis salihah!
Entahlah, aku tak mau bergeser sedikit pun dari tempatku. Aku masih memperhatikannya. Kini pengemis itu telah selesai shalat. Kulihat dia menengadahkan kepalanya dan tangannya diangkat ke atas seperti sedang berdoa. Beberapa saat kemudian, dia seperti menangis. Tubuh yang tertutup kain hitam itu terus terpekur meronta pada Sang Pencipta. Itulah phenomenon in silence1) yang membuat jiwaku bergetar hebat serta mampu merapuhkan tubuhku.
Aku segera beranjak dari tempatku dan mengambil sebungkus makanan dari maidaturrahman2) yang diberikan temanku tadi sore. Aku ingin memberikannya untuk pengemis itu. Aku segera keluar dari kamar dan berlari menuju masjid. Karena tergesa-gesa, kakiku tersandung dan brukk….aku terjatuh. Aku meringis kesakitan. Beberapa saat aku tak bisa bangkit. Aku menoleh ke kanan-kiri, tak ada siapa-siapa. Bagus, berarti tak perlu menanggung malu, batinku. Bagaimanapun, kupaksakan berdiri sambil menahan sakit. Aku berjalan pelan-pelan menuju gerbang masjid Haramain.
Kuedarkan pandangan, tapi tak melihat wanita bercadar itu lagi. Aku terhenyak. Aku justru melihat seorang wanita muda berparas asia. Dilihat dari wajah dan cara dia berpakaian, aku yakin bahwa dia orang Indonesia. Tanpa ragu aku bicara padanya dengan bahasa Indonesia.
“Permisi, Indonesia ya?” tanyaku. Dia terdiam dan tak menjawab. Aku pun bertanya lagi.
“Apakah Anda melihat wanita bercadar di sekitar sini?” ia tak juga menjawab. Aku jadi salah tingkah. Aku menggaruk-garuk kepalaku yang sebenarnya tak gatal. Atau mungkin dia bukan orang Indonesia, batinku. Aku mencoba bertanya lagi dengan bahasa Arab.

Lausamahti, anti andunisiyah?” dia juga tak memberi tanggapan apa-apa. Refleks saja, aku mengganti pertanyaanku dengan bahasa inggris.
“Excuse me, are you Indonesian?” aku tunggu, tak ada tanggapan apapun dari wanita berbusana merah jambu itu. Dia menunduk, dan mulai menangis terisak-isak. Ada apa dengan wanita ini? Aku menghela napas panjang. Aku tunggu wanita itu sampai berhenti dari tangisannya. Setelah lama kutunggu, dia justru beranjak pergi sambil mengucapkan salam. Aku memandanginya sampai keluar dari gerbang masjid.
* * *
Beberapa hari kemudian…
“Mukmin, kamu dipanggil ustaz Sofwat,” kata Iyan, teman sekamarku.
“Ya, sebentar!”
Tak lama kemudian, aku menemui ustaz Sofwat. Dia memberitahuku bahwa ada seorang wanita sedang menungguku di depan asrama. Wanita, siapa dia?. Dengan rasa heran aku begegas keluar asrama. Benar apa yang dikatakan ustaz Sofwat, di depan asrama berdiri seorang wanita muda berpakaian merah jambu. Bukankah dia wanita yang kemarin aku temui di depan masjid Haramain itu?. Aku mendekatinya.
“Assalamu’alaikum.” kataku.
“Wa’alaikumussalam.”
“Gimana kabar, Mas?” tanya wanita itu mendahului.
“Alhamdulillah baik.”
“Ini ada bingkisan khusus buat Mas,” kata wanita itu sambil memberikan bingkisan warna merah.
“Dari Anda?. Dia tak menjawab, namun justru tersenyum.
“Terima kasih,”
Wanita itu pamit sebelum aku sempat bicara lebih banyak lagi dengannya. Aku hanya memandanginya tanpa kata. Aku tak tahu, skenario apa yang sedang Allah subhanahu wa taala jalankan untukku.
Aku masuk ke dalam kamar. Kubuka bingkisan itu. Ternyata isinya semangkuk soto ayam yang dibungkus rapat, juga beberapa tempe goreng yang dibungkus plastik. Aku geleng-geleng kepala dan senyum-senyum sendiri. Di dalam bingkisan itu juga terselip sepucuk surat. Kuambil dan kubaca surat itu.
Salam.
Langsung saja…
Maaf bingkisannya mungkin kurang menarik. Tapi, inilah yang bisa saya berikan untuk Mas.
Begini, saya hanya ingin menjelaskan, wanita bercadar yang selama ini di pinggir gerbang masjid Haramain itu adalah saya. Sejak tahun lalu saya menjalankan pekerjaan ini selama bulan Ramadhan. Saya kira tak perlu saya menjelaskannya lebih panjang, mengapa saya mau menjalankan pekerjaan yang hina tersebut. Inilah saya, satu dari rakyat Indonesia yang berada di garis kekurangan. Maafkan saya, Mas…saya tak bisa menjelaskan lebih banyak lagi.
Sekian saja, terima kasih banyak atas bantuan Mas.
Wassalam.
Muslimah,
mahasiswi Al-Azhar Kairo.
* * *
1)Phenomenon in silence : fenomena dalam keheningan
2)Maidaturrahman : Makanan Gratis untuk buka puasa yang biasanya diberikan oleh para dermawan mesir

Phenomenon in Silence

by on November 05, 2011
Cerpen Irja Nasrulloh A ku orang yang paling tak tega melihat pengemis. Beberapa hari ini, pikiranku gundah oleh pengemis yang se...