Tampilkan postingan dengan label Tips Menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips Menulis. Tampilkan semua postingan
Oleh Irja Nasrulloh

Berbicara mengenai fiksi maka kita tidak akan lepas dari sastra, karena fiksi sendiri merupakan sebuah istilah dalam karya sastra yang berarti khayalan atau tidak nyata. Yang termasuk dalam karya sastra adalah cerpen, novel, pantun, syair, sandiwara/drama, lukisan/kaligrafi. Semua itu juga disebut dengan fiksi karena merupakan hasil imajinasi atau khayalan belaka.
Fiksi merupakan sebuah karya yang mudah dibuat dan tidak terlalu terikat oleh berbagai aturan-aturan, sebagaimana yang ada pada karya ilmiah. Dalam kaitannya dengan metode dakwah sendiri, fiksi diibaratkan sebagai dharbul amtsal atau permisalan. Al-Qur’an sendiri memberikan contoh tentang dharbul amtsal ini, yaitu dalam kisah-kisah al-Qur’an yang berjubel jumlahnya. Dengan metode inilah, pembaca ikut terhanyut dalam setting yang disajikan penulis. Alhasil, hikmah yang tersurat atau tersirat di dalam tulisan bisa masuk ke dalam memori otak pembaca dengan mudah serta tidak ada unsur menggurui.
Seorang penulis fiksi harus tahu betul akan tingkatan konsumen, mulai dari tingkatan anak-anak, remaja, dan dewasa. Dengan hal tersebut, penulis akhirnya mampu menyesuaikan tulisan-tulisan yang diproduksinya. Misal, untuk tingkatan anak-anak, penulis juga harus menggunakan bahasa yang mudah dicerna dan dipahami oleh mereka. Begitu pula dengan para remaja dan orang-orang dewasa. Revolusi bahasa merupakan salah satu kunci kesuksesan menulis.
Ada beberapa kendala yang harus dihilangkan bagi siapa saja yang ingin menulis, terutama pemula. Di antara kendala-kendala tersebut ialah kurang percaya diri, tidak ada keberanian untuk menulis, niat yang setengah-setengah, tidak tahan kritikan, dan kurang sabar. Hal tersebut harus dibuang jauh-jauh, sehingga proses menulis bisa berjalan lancar serta kontinu.
Mungkin beberapa orang akan berkata, “Saya ingin menulis, tapi tidak tahu dari mana harus memulainya?!” Pertanyaan tersebut mungkin akan sering terdengar dari para pemula yang ingin mencoba menulis. Nah, dalam memulai menulis kita bisa memulainya dengan hal-hal berikut, memulai dengan dialog, deskripsi tokoh, adegan, atau latar tempat.  Dalam membuat dialog, seorang penulis bisa menuliskan kalimat-kalimat yang singkat, layaknya dialog yang bisa kita lakukan sehari-hari dengan orang-orang di sekeliling kita. Sedangkan untuk membuat deskripsi tokoh, bisa dijelaskan fisik ataupun karakter tokoh. Semua hal tersebut boleh dijelaskan secara detail, termasuk adegan dan latar, agar cerita terkesan lebih hidup. Namun, bagaimanapun, seorang penulis bisa me-manage tulisannya sesuai selera mereka. Contoh, dalam penulisan cerpen, mungkin beberapa penulis tidak akan terlalu detail dalam mendeskripsikan tokoh, berhubung cerpen merupakan karya fiksi yang karakternya terbatas.
Salah satu hal yang perlu diingat, jangan mengedit tulisan kita di tengah-tengah. Itulah sebabnya, beberapa orang tak pernah selesai dalam menulis, dikarenakan bolak-balik ke depan dan selalu saja merasa ada yang salah dengan tulisannya. Menemukan kesalahan di sela-sela menulis adalah hal yang lumrah, namun berusahalah untuk mengedit tulisan ketika tulisan tersebut telah sampai pada penyelesaian. Bolehlah, mengedit sekadarnya di sela-sela menulis, namun jangan sampai merusak inti cerita, sehingga harus mengubah  lagi dari awal.
Terakhir, inilah sedikit tips menulis fiksi. Walaupun tulisan ini sederhana, namun semoga bermanfaat untuk pembaca semua. Terima Kasih. Selamat Menulis! Salam Pena!   

Apa Itu Fiksi?

by on November 08, 2011
Oleh Irja Nasrulloh Berbicara mengenai fiksi maka kita tidak akan lepas dari sastra, karena fiksi sendiri merupakan sebuah istilah dala...

Oleh Irja Nasrulloh

Berikut ini beberapa tahap-tahap yang dilalui dalam menulis,

1. Pencelupan
2. Pengumpulan data yang detail.
3. Tulislah apa yang diketahui dari data-data tersebut.
4. Daftar isi dan alur cerita. Termasuk di dalamnya karakter tokoh, juga latar.
5. Menuliskan bab demi bab.
6. Jangan berhenti sebelum selesai.
    Ingat! Jangan mengoreksi di tengah-tengah(saat menulis).
7.Membuat judul.
*Kriteria judul yang baik:
a)     Judul yang unik. Contoh: Dialog Dengan Jin Muslim.
b)     Sensasional, bombastis.
c)      Kontroversial. Contoh: Ternyata Manusia Tidak Mati.
d)     Rahasia. Contoh: Rahasia Awet Muda.
e)      Menjawab persoalan. Contoh: Agar Sukses di Usia Muda.
*Juga memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Terdiri dari dua sampai tiga kata, maksimal empat.
    Contoh judul dengan tiga kata:  Ayat-ayat Cinta.
2. Mudah diingat.
3. Mencerminkan isi.
4. Berwibawa.
5. Marketable ( Menarik perhatian orang untuk membeli).

8. Revisi/tinjauan ulang.


Tahap-Tahap Menulis

by on November 08, 2011
Oleh Irja Nasrulloh Berikut ini beberapa tahap-tahap yang dilalui dalam menulis, 1. Pencelupan 2. Pengumpulan data yang detai...


Oleh Irja Nasrulloh


Menulis merupakan hal yang membutuhkan ketelatenan. Menulis  merupakan perpaduan antara logika dan hati. Kedua-duanya merupakan oplosan yang bisa dilatih. Seorang penulis, minimal memiliki pondasi dasar dalam dirinya untuk menjadi seorang penulis. Berikut ini, modal untuk menjadi penulis,

1.     Niat yang kuat.
Niat merupakan esensi daripada sebuah perbuatan. Niat yang kuat merupakan kekuatan yang bisa menembus batas penghalang apapun, sehingga tercapailah tujuan manusia. Tentunya hal tersebut tetap dalam kodrat-Nya. Kewajiban hamba yaitu berusaha.
Jangan pernah berkata bahwa kita tidak punya bakat menulis. Ketauhilah, bahwasanya sekarang ada pengertian baru tentang bakat itu sendiri, yaitu kemauan keras dan keinginan kuat yang selalu dijaga.
2.     Keberanian untuk menulis.
Jangan pernah takut untuk menulis! Menulis tidak terbatas pada tempat dan waktu; alam artian menulislah selama ada kesempatan dan kemampuan untuk menulis. Umur, juga bukan alasan untuk tidak menulis. Perlu kita ketahui, bahwa Ahdiat K. Miharja, menulis pada usia 94 tahun. Banyak penulis-penulis yang memulai menulis di usia yang sudah senja. Sebaliknya, banyak pula penulis-penulis cilik yang bukunya sudah berderet di toko-toko buku bertaraf nasional. Jadi, jangan pernah takut untuk mencoba menulis. Tunjukkan nyalimu!
            3.   Idealisme Yang Selalu di Perjuangkan.
Dengan idealisme atau kekuatan jiwa seorang penulis, maka sebuah tulisan terlihat lebih berisi. Dengan idealisme pula, seorang penulis memiliki bobot, energi lebih, ide yang cemerlang, dan daya kreatifitas yang luar biasa. Di samping itu, inilah hal yang akan menjadi ciri khas dari setiap penulis. Tulisan akan memancarkan idealisme masing-masing penulis.
4.     Ilmu dan Wawasan.
Ilmu dan wawasan yang luas merupakan hal yang tidak boleh lepas dari seorang penulis. Membaca merupakan salah satu cara mujarab untuk menambah wawasan. Ibarat seorang pedagang, membaca merupakan kulak atau membeli barang-barang yang akan dijual. Adapun menulis merupakan ibarat daripada menjual barang dagangan kita.
5.     Ikhlas
Mulailah menulis rasa ikhlas. Dengan rasa ikhlas, maka semua pekerjaan termasuk menulis akan sangat menyenangkan. Dengan hal tersebut, berbagai rintangan yang datang saat menulis, tak akan mudah menggoyahkan proses menulis. Memang boleh mempunyai tujuan-tujuan tertentu ketika akan menulis, seperti ingin mencari rizki lewat tulisan. Hal tersebut tetap tidak menafikan seseorang untuk bisa merasa ikhlas. Hanya saja, mungkin tujuan seperti itu, bukan tujuan primer ketika seseorang menulis.
  

Modal Menjadi Penulis

by on November 08, 2011
Oleh Irja Nasrulloh Menulis merupakan hal yang membutuhkan ketelatenan. Menulis  merupakan perpaduan antara logika dan hati. K...